Selasa, 06 Mei 2008

BAHASA LAKI-LAKI VS BAHASA PEREMPUAN

Ni lo bedanya bahasa laki-laki dan perempuan...
Ngambek sama cowok?Pernah?
Aku sering!!Gak peduli mo dibilang kekanak-kanakan. Sering aja pokoknya. Kalo udah gitu, komunikasi via sms. Curhat via sms. Ngomel via sms. Memaksakan yang gak suka, terpaksa jadi ikut2an sms-an juga. Hehe salah sendiri, cari gara-gara.Semakin sms gak ditanggepin, semakin heboh ngambeknya hehe. Semakin cari gara-gara, hihihi (ayo ngacung yang sama spt aku!)
Tapiiii lama-lama….. capek
Abis semakin kita diam, semakin kita membisu, boro-boro dia mo ngerti, mo minta maaf, karena yang ada dia semakin gak ngerti apa maunya kita! Hayah!Sementara kitanya udah berlinangan air mata, sampe mata sembab segala, badan kurus kering *hiperbol mode on* eh eh dianya semakin bingung loh! Addduhhhh plisss dehhhhhhh!!!!!Kalo kita jelasin sampe detailpun, alasan kenapa kita ngambek, kenapa kita sedih, dan kenapa kita merasa paling menderita sekalipun, dia cuman manggut-manggut aja tuh! Sambil sesekali bilang “ohh gitu toh. Ngomong dong”hwaaaaaaaaaakssssss Grrrrrggghhhhhhhh GUK GUK AUMMMMM!! (nah luuu kok jadi srigala?)
Perbedaan dalam hal capek penggunaan bahasa oleh kaum laki-laki dengan kaum perempuan sulit untuk dikatakan sebagai suatu kecenderungan yang bersifat biologis semata. Kenyataan lebih menunjukkan bahwa faktor sosial dan budaya sering memegang peranan yang penting dan menentukan tentang cara bagaimana kaum perempuan dan laki-laki (harus) berbicara. Hal ini mengakibatkan semakin tidak mudahnya memahami bahasa hanya dari struktur kata dan kalimatnya saja tanpa menelusuri lebih jauh faktor-faktor lain yang melatarbelakangi pemakaian bahasa tersebut dalam suatu komunitas kehidupan tertentu. Namun, dunia yang kita diami sekarang ini sudah telanjur mensterotipkan laki-laki dan perempuan hanya sesuai dengan streotip yang ada saja. Akibatnya, kita sering menjadi kurang peka dengan kemungkinan-kemungkinan lain yang bahkan bisa berlawanan dengan asumsi yang telanjur dipercayai sebagai sesuatu yang benar. Atau kita menjadi terlalu cepat memandang negatif dan secara serta merta menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan asumsi yang sudah terlanjur terbentuk. Dalam dunia yang semakin mengglobal, perubahan-perubahan sosial dan budaya pasti akan berpengaruh terhadap cara pandang dan cara hidup. Perubahan yang bersifat mengglobal dan semakin kompleks membawa konsekuensi bahwa pemahaman kita terhadap gender dan bahasa mau tidak mau dituntut untuk berubah pula.Dari berbagai penelitian di bidang bahasa dalam kaitannya dengan kehidupan sosial-politik dan budaya masyarakat, terlihat bahwa bahasa perempuan memang berbeda dengan bahasa laki-laki. Perbedaan bahasa laki-laki dengan perempuan sangat erat hubungannya dengan masalah kekuasaan, Perbedaan bahasa mereka bukan saja terletak pada perbedaan suara, tetapi juga pada pemakaian atau pemilihan kata (leksikal), gramatikal dan juga cara penyampaian (pragmatis). Peribahasa ini menunjukkan bahwa perempuan sebaiknya diam, karena apa yang dikatakan perempuan bukanlah sesuatu yang patut kita dengarkan. Perempuan hanya patut untuk diamati dan dilihat saja. Sementara itu, Schulz mencatat beberapa kata dalam bahasa Inggris yang artinya perempuan tua: trot, hen, heifer, warhorse, crone, hag, beldam, dan frump. Nyata perempuan dideskripsikan dengan mendetail karena mereka lebih sering dilihat atau dijadikan obyek. Sementara itu gambaran tentang perempuan dalam bahasa Jawa juga menunjukkan bahwa perempuan lebih sering dijadikan objek untuk dilukiskan. Itu juga sebabnya mengapa banyak lukisan di museum lebih banyak memilih objek perempuan dibanding laki-laki. Pelukis laki-laki pun lebih banyak dibanding pelukis perempuan. Perempuan lebih cocok dijadikan obyek lukisan. Pendapat seperti ini tampak dari bahasa yang menggambarkan perempuan. Perempuan mempunyai kedudukan yang sangat tersudutkan dalam hal bahasa. Apabila perempuan berbicara tidak seperti lady mereka akan dikritik sebagai tidak feminim. Namun, apabila mereka berbicara lemah lembut dan sopan, mereka juga akan dinilai sebagai kaum lemah, yang tidak mampu berpikir jernih dan berbicara masalah-masalah yang serius. Tenang dan diam adalah sifat-sifat yang diharapkan oleh masyarakat dari anak perempuan, sedang anak laki-laki pantas untuk marah dan bersikap agresif.Bahasa telah dimanfaatkan oleh kaum laki-laki untuk menekan kaum perempuan.(kadang sih...) bahasa laki - laki. Bahasa komunikasi diterjemahkan menjadi sesuatu yang hanya bersifat audio dan arti harafiah. Dan yang bisa menangkap semua itu cuma otak laki - laki, karena otak mereka lebih banyak terdiri dari logika. Sedangkan otak wanita lebih banyak terdiri dari emosi. Kita memproses komunikasi dari apa makna tersirat bahasa itu, apa bahasa tubuh dan mimik wajah orang itu, baru memprosesnya. Bukan cuma sekedar makna harafiah.Contohnya...Yeap, that's why kalau kita bilang ke mereka saat kesal "Aku tidak apa - apa!" lantas mereka akan bersikap cuek dan tidur atau meninggalkan kita begitu saja. Karena menurut mereka kita baik - baik saja, sementara yang kita maksud adalah dari nada bicara kita ingin dia mengerti bahwa "masa sih kamu ga sadar kalo aku ga baik2 aja??"And wanita selalu yang disalahkan karena mengatakan yang berlawanan dengan yang diinginkan, padahal emosi adalah sesuatu yang hampir tidak bisa di ekspresikan oleh semua orang dengan kata - kata. Kecuali kamu penulis atau psikiater, berani jamin akan susah untuk nyari kalimat yang tepat saat kesal dan emosi.

Cara terbaik:
. Selalu berupaya untuk memikirkan segalanya dari sudut pandang cowok juga. Nah lebih cepat pula kita menyadari apa yang terjadi, dan lebih cepat juga ada penyelesaian. Biasanya sih, kalo kita mau sedikit mengerti, sedikit saja berusaha memandang dari posisi cowok kita akan jauh lebih toleran.
Daripada kita berusaha dia yang mengerti bahasa kita, bahasa perempuan, terutama bahasa PMS kita nih, *Bakalan capeeee dehhhhh :P* mendingan kitanya yang mulai menggunakan bahasa mereka. Setidaknya mengetahuilah cara berfikir pria. Memahami Bahasa pria dan yang penting nih, .Udah mahfum dong kalo para pria itu straight forward cara berpikirnya. Berdasarkan fakta aja. Gak berdasarkan perasaan. Itu udah secara biologis. Udah dari sonohnya. Bakal Cape aja kalo mo merubah cara berfikir mereka. Gampangnya gini, kalo kita gak kasih tau, mereka gak bakal tau. Mana bisa mereka menangkap isi hati kita kalo gak kita ungkapkan. Ungkapan popular para cowok (suka ngeles), “Emang gw dukun!!!”
Seringkan kita berpikir, ih masa dia gak ngerasa sih kalo dia ingkar janji, masa dia gak ngerti sih kalo gw lagi ngambek, udah dari tadi gw gak ngomong apa-apa, masa gak tau sih?? Maaf ladies, kemungkinan besar mereka gak akan ngerasa. Huh dasar para pria gak punya perasaan!! *Uppsss maaf cuman bercanda (sekaligus nyindir) hehe. Mereka tidak akan tahu kalo gak dikasih tau!Nah gampang kan kalo gitu. Yah ungkapin aja apa yang kita rasakan, apa juga yang kita harapkan. Kasih solusi juga. Time to Speak Up Girl!!Nah itu lebih baik. Jelas, lugas, dan ada pilihan solusi. Jauhhhh lebih baik ketimbang, kita seharian cemberut, melengos seharian



Kata-kata diatas aku dapet dari berbagai sumber...

Tidak ada komentar: