Kamis, 10 Juni 2010

Catatan Harian Bendahara BEM ( part 2 )

Hari ini, entah hari ke sekian menjadi bendahara bem, entahlah,, apa yang harus dituliskan lagi. Tapi cukup menyenangkan juga jika saya datang di BEM, dengan suasana begitu ramai dan....sekian banyak bocah hilir mudik berdatangan ke saya bertanya apakah SPJnya sudah benar apa belum.
Enam bulan, hampir deng...hampir enam bulan di BEM????

Misi saya sebagai bendahara bem memang tidak muluk-muluk, hanya saya ingin semua manusia yang mengaku aktif berorganisasi entah di BEM entah di lembaga lain, paham bagaimana membuat dan mencairkan dana dengan benar, dan menggunakannya untuk hal yang bermanfaat. Saya pikir sebenarnya itu salah satu pencegahan korupsi, biasanya orang korupsi kan ada sebabnya, bisa jadi seseorang melakukan korupsi selain karena dia serakah, tapi juga karena tidak tahu sistem yang berlaku. Ah.....birokrasi, memang kadang-kadang mempersulit diri.

Ngomongin korupsi????? Ckakaka.....saya hanya ingin tertawa, setelah membaca buku "Memahami Untuk Membasmi" buku yang saya dapat waktu P4T 3 tahun lalu,,,,(tapi baru dibaca sekarang ). Korupsi memurut aturan Tuhan tidak sama dengan Korupsi menurut Undang-undang buatan manusia ternyata.Hmmmm...atau saya butuh membaca ulang buku ini, atau saya perlu bicara banyak dengan Cyntia, Wiwin, Pandhu, Mega...ah...anak-anak advo yang kemarin sore menginspirasi saya sesuatu hal.

Ngomongin korupsi???? Jadi ingin memeberikan klarifikasi. Beberapa bulan yang lalu, rating saya naik, sedikit terkenal, karena apa???? Karena ada gosip, tentang "uang yang di tilep lah", "bem korup lah" dan entah apalagi itu....saya tidak membaca semua tulisan yang di tempel. Cukup "mengharukan", karena pasca gosip itu beredar, banyak orang yang datang memberikan dukungan terhadap saya,mengutuk perbuatan si pelaku yang mungkin cukup biadab, meskipun tidak sebiadab Israel. Jadi pengen ketawa sendiri, betapa banyak orang menganggap saya sosok yang baik,,,,apa tidak ada sedikitpun keingninan untuk ber-negative thingking, saya kan juga manusia, siapa tahu ada salah juga to....

Dan yang lebih seru lagi, bulletin yang kedua....jiah....membaca tulisannya membuat saya tertawa. Saya sangat mengenali tulisan si pelaku,.....jelas amat sangat terlihat. 

Dan lagi-lagi, begitu banyak orang berdatangan ke saya, turut berduka, yang bilang...

"Sabar,,,yak...."

"duh...sedih banget sih...."

dan lain sebagainya.

Ga cuma anak BEM, DPM , atau lembaga mahasiswa, sampai yang study oriented aja, berbela sungkawa ke saya...

Untuk beberapa saat....

"bingung"

"heran"

"berduka untuk apa? berbela sungkawa untuk apa?"

Jawaban mereka

"Habis pu....kamu harus menghadapi yang kayak gituan, berdarah-darah, banyak konflik, banyak masalah"

Saya...jadi berpikir

" konflik, masalah....yah mungkin...tapi buat saya ucapan bela sungkawa ini justru menjadi masalah daripada issue yang beredar"

Saya tipikal orang yang tidak suka dikasihani, apalagi kondisi saya di bem fine-fine aja, tidak sedih, jikapun saya punya alasan untuk bersedih di bem sepertinya bukan tentang itu, dan kayaknya harus dicari-cari dulu, kapan saya merasa sedih di bem, ( habis pascal 2009.....hahaha)

Jadi klarifikasi ini saya lakukan agar orang-orang tersayang di sekitar saya tidak "lebay" dan "bercucur air mata":

1. Saya pribadi sebagai bendahara bem tidak menilep uang bem, karena tidak ada yang bisa di tilep lah wong uangnya cair setelah SPJ

2. Selama ini program kerja bem dibiayai dengan penalangan terlebih dahulu dengan menggunakan kas bem. Kalau kas bem abis pakai duit ketua bemnya, duit sekjendnya, duit staff,,,,silahkan ditanya pada yang bersangkutan.

3. Jika di tengah jalan ada kucuran dari dekanat, itu karena ada lobby lagi dari bendahara umum,jika teman-teman lembaga lain menginginkan hal yang sama, ya monggo silahkan lobby sendiri dengan dekanat, kan "panjenengan" sendiri to yang tahu seberapa penting dan butuh keuangannya,jauh lebih menguasai....(masalahnya banyak yang takut untuk ke dekanat kie, takut ke dekanat bukan salah bendum kan....)

4. mengenai laporan keuangan,saya justru bersedia memberikan jika gosip itu mereda. Saya tidak ingin memberikan didikan untuk anak bem, bahwa mereka membuat laporan keuangan karena issue, bukan karena rasa takut, bukan karena di tekan, saya tidak menyukai pemimpin yang memberikan "press" besar ke staffnya meskipun hasilnya biasanya bagus, tapi tidak menanamkan tanggung jawab, kesadaran diri dan sebagainya.....

5. Untuk orang-orang tersayang, berhenti mengasihani saya, mengucapkan duka cita saat bertemu, dan menganggap saya sebagai makhluk teraniaya. Saya baik-baik saja, saya tidak merasa teraniaya, kasihanilah diri anda sendiri saja....haha....Mari kita bicarakan yang lebih penting dari itu salah satunya "cari jodoh" hahahaha.........( make a wish tadi pagi)

6. Untuk si pelaku...maaf jika banyak orang mengutuk perbuatan anda, saya ga nyuruh koq...padahal dimata saya anda begitu baik, anda mengenali betapa banyak orang yang sudah teracuni oleh infotainment negatif. Jadi mereka baru "terbangun" dari "tidur" saat ada berita buruk di sebar, misal gosip artis kawin cerai, video mesum, atau apalah ketimbang Indonesia yang memiliki professor yang karyanya di pakai oleh NASA. Sama mereka baru terbangun ketika ada berita burung seperti ini tapi merem saat ada banyak tawaran kebaikan ....

Jadi inilah klarifikasi dari saya, males konferensi pers.....

Tentang BEM

Memutuskan untuk menuliskan sebuah kisah pribadi tentang BEM MIPA adalah sebuah pilihan berat bagi saya. Sepintas seperti sebuah CurCol alias Curhat Colongan, sama persis dengan update-an status facebook yang kadang terlalu tidak penting dan sebatas curahan emosi yang tidak terkontrol. Atau, sama dengan tidak mutunya seorang artist yang menulis kisah hidup pribadinya untuk di jual dan memberikan keuntuingan pribadi. Namun saya bukanlah seorang artist dan cerita tentang diri saya bukanlah suatu komoditas bisnis yang pantas untuk di tampilkan dalam tayangan infotainment. Tapi di satu sisi, saya bukanlah seorang pengukir sejarah, yang begitu hebatnya memberikan catatan emas untuk orang banyak, saya hanyalah salah satu bagian dari sekian banyak orang yang memimpikan menjadi pengukir sejarah, tapi dia sendiri tak pernah tahu dan berusaha mencari tahu dimana dia menyimpan pena emasnya. Aih, kadang saya pikir saya tak jauh beda yang dengan seorang pecundang.
Perjalanan di BEM memang saya lalui dengan indah, saya sebut indah meskipun ada juga waktu yang bisa dibilang berdarah-darah. Tapi karena lebih banyak senangnya ya sudah ...lupa...hehe.
Waktu mendaftar sebagai anggota BEM saya masih tak jauh beda dengan kebanyakan orang, pengen ikut, karena pengen dapat banyak pengalaman, dapat banyak teman. Saya belumlah menjadi sosok-sosok hebat yang menghiasi BEM dengan alasan untuk berkontribusi dan memberikan segala hal yang dia mampu agar BEM jadi profesional, hebat, dan lain sebagainya. Aih, saya hanya bocah ingusan berusia 17 tahun yang suka nangkring di kursi depan. Ngga ngerjain apa-apa, cuma numpang mejeng, biar keliatan "ini lo...gw anak BEM"
Tahun pertama di BEM boleh dibilang saya ga ada masalah besar. Saya mendapatkan apa yang saya mau. Jadi ketika ada pertanyaan dari Sekjend BEM 2006 dalam wawancara, "apa yang akan kamu lakukan jika ternyata BEM tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan?", tidak terjawab dengan sempurna. Kenapa???? Karena jawaban hanya disampaikan dengan lisan, tidak dengan benturan langsung dengan kenyataan.
Jawaban yang mungkin sama dengan yang saya berikan kepada seseorang yang bertanya,"jika saya melakukan kesalahan dan orang se MIPA menyalahkan saya, apakah kamu juga akan ikut menyalahkan?"
Yang pasti tahun pertama alias semester pertama di Jurusan BEM saya lalui dengan fun, fun, dan fun. Nulis, wawancarain orang penting, bikin mading, hunting foto, belajar fotografi meskipun cuman bentar sama mbak Icha, diajak ke Malioboro ngejar-ngejar orang aksi, bikin bulletin, didelegasikan ke Research Week, dan banyak lagi. Tapi intinya semua hal yang saya lakukan masih sebatas saya suka dengan apa yang saya kerjakan, saya senang, saya dapat ilmu baru, tapi tidak tahu apakah saya sudah memberikan yang terbaik untuk orang lain.
Lucu rasanya kalau ingat begadang sampai malam di kostan Devy yang lama, barengan sama Alfi Bochiel, menghadap satu komputer, bah...jadul banget, masih pakai komputer, ga kayak sekarang, kalau saya, alfi, dan devy ngumpul pasti mngeluarkan senjata dari ransel masing-masing....Laptop-laptop kami...hihi....
Tiga orang konyol dikumpul jadi satu, ya udah jadi deh...hehe. Lucu kalau ingat tema mading kami dulu, pas mau nampilin foto kabinet, kami bertiga sepakat membuat tema "Senyum Pepsodent" meskipun mading kami tidak di sponsori oleh pepsodent...Jadi kami mencari foto Kabinet dan PH yang Giginya wajib kelihatan...dan sayang sekali, tidak semua orang sadar betapa kami menonjolkan si "gigi " itu ketimbang esensi dari susunan kabinet. Hihi...dulu nakal sekali ya...
Kerja terbesar kami adalah menginisiasi mading semua lembaga untuk di tempel di papan kaca...horeee....keren kan, waktu itu saya terinspirasi dengan grafitty di semarang yang puaaaaaanjaaaaang banget, gimana kalau ada mading yang puaaaaaaaanjang aja deh, ga usah pakai banget,semua lembaga tunduk dan patuh mengerjakan mading untuk kami, jadinya keren deh...menurutku, kalau menurutmu terserah....
Yang nyebelin di tahun pertama adalah bikin SPJ, aseli....bener-bener bikin jengkel, sudah dibuat salah, sudah dibenerin, eh salah lagi, mana ga semua toko punya stempel lagi, huh...kesel. Udah gitu kalau notanya ilang...huwaaaaaa.....ga-ga....;jauh-jauh aja deh dari kerjaan yang merknya "bendahara departement"...dan yang pasti males-malesan nemuin mbak alma, takut SPJnya dicoret...ampuni aku mbak Alma peace....
Masuk tahun kedua di BEM, masa-masa dibawah kepemimpinan mas Aza, mulai belajar dengan banyak konflik, hihi.....mulai belajar tentang kerja-kerja amal, keikhlasan, meskipun sebenarnya yang dikerjain adalah apa yang disukai, eh ga juga ding...
Yang pasti ngerasa masih punya banyak teman, satu departemen dengan Uus,yang sudah cukup kenal, waktu itu cukup kenal bukan kenal banget. Pindah ke departemen Kastrat ternyata cukup sulit juga, sedikit beda dengan Ristek, apalagi berpartner dengan Uus yang sudah dididik ala advokasi,huah....adaptasi banyak deh...
Bikin proker, haaarggg...saya yang biasanya tinggal menjalankan ternyata harus belajar merancang, pakai rebutan segala sama advokasi, aneh...eh ga ding...justru itu orang-orang luar biasa berebut amalan...haha.
Kerja bareng pertama ya, Up Grading, baru merasa kenal dengan sebagian orang, oh yang itu anaknya kayak gitu to, yang ini anaknya kayak gini to, meskipun mulai ada konflik, misal : Sabtu pagi Up Grading, Jumat siang ibu saya telpon ayah saya kecelakaan, aaarrrrrggghhhh.....bener-bener diantara 2 pilihan,tapi waktu itu konflik antara keluarga dengan lembaga belum separah sekarang. Maksudnya ayah saya tidak melakukan trik konyol biar saya sering pulang seperti sekarang.
Lepas Up Grading, langsung deh, waktunya diforsir, dikejar bulletin yang harus terbit, kalau ga terbit kan nanti mau diambil advo ( peace rief^^), ga rela, ga rela....menghadapi virus,dan masalah-masalah lain pun berdatangan, ngumpulin Komed, yang jujur saya dulu ga tahu harus membawa dia ke arah yang mana, dan menjadi "kakak"yang baik buat anak 2008, padahal di rumah adek saya jadi "abang."
Eh...sudah gitu ditambah diminta jadi Panitia Sembilan. Pas di awal sih Koor Media doang, lah koq minggu depan nambah jadi Sekretaris dan Bendahara. Huh...ga mau!!!! enak aja, nyuruh ga bilang-bilang dulu, ga fair...loh...loh...
Kanak-kanak sekali deh waktu itu, pakai nangis -nangis segala di kursi sova BEM yang sekarang patah, hahaha.....kalau sekarang ketawa-ketawa ya...
Di sinilah karier ke Bendaharaan saya dimulai, kalau jadi bendahara itu harus ikutan ngeplotin, megang uang 500 ribu yang bukan uangnya,jadi tahu apa itu DPP SPP, apa itu Kas Bon, tapi ga tahu proses Kas Bon itu gimana, jadi ngerti kenapa harus ada proposal buat nyairin duit, gara-gara proposal hasil karya saya yang asli tidak menjiplak ditolak oleh mbak Bendum waktu itu, karena...kelamaan hom pim pah sama ketua Panitianya ga mau naikin ke dekanat, hu,,,waktu itu masih menganggap Pak Dekan serem, padahal jelas ganteng gitu loh...becanda deng...hu...itu alasan saya sekarang menunggu anak bem untuk bikin proposal tanpa menjiplak dan berani ngasih ke dekanat sendiri, saya tunggu deh ga saya tolak....pas masa itu juga tahu tentang penalangan, dan gimana kalau uang kurang,,,ah...seharusnya saya sudah berpikir sudah ada yang mentargetkan saya jadi Bendum Bem tahun depan, tapi koq ya ga sadar to. Masalah SPJ waktu itu sudah clear, sudah tidak seperti masa awal di BEM. Apalagi laporan keuangan...ihiy...rapi sekali....
Yang bikin repot, paling nagihin orang bikin LPJ, sama repotnya dengan nagihin SPJ....hahay....
Masa selanjutnya saya lebih dibesarin di kerjaan administrasi ketimbang media, meskipun ikut klubnya Pak Yusuf Maulana, dan itu sangant banyak memberikan saya ilmu pengetahuan, tapi tetep aja, kerja saya lebih banyak di bidang admin, apalagi masuk Pascal 2009, saya sukses mencitrakan jadi SE itu enak, padahal,,,sebenarnya ribetnmya juga sama dengan bendahara, masa itu adalah masa dimana saya muali sering diajak ke dekanat, diajak lobby uang, ke bagian keuangan, katanya si SE, tapi kenyataan ngurus uang saya juga punya andil,saya sudah dididik sejak saat itu. Hmmmmm.....
Pasca Pascal saya menderita kejenuhan, sedikit bermasalah, males ke BEM, ga mau bikin bulletin, dan merelakan anak Advo yang ngerjain.....payah!!!!!
Udah males banget sama BEM, BEM ga ngasih apa yang saya mau, dan di sinilah semua itu teruji...
"Jika kamu tidak memperoleh segala sesuatu yang kamu inginkan, apa yang akan kamu lakukan?"
"Apa sih tujuan kamu di BEM?"
"Selama ini bener ga yang dilakuin kerja-kerja amal?"
"Bener....?????"
ahhhhh....perang berkecamuk di kepala saya waktu itu....
Dan...
Pilihan tetap kembali ke BEM, mengisi salah satu peran sebagai Bendahara Umum. Meskipun diawalai dengan beruarai air mata, tapi akhirnya pilihan itu diambil juga. Merasa asing dengan orang baru di BEM, asing dengan ketua baru, karena orang yang jadi ketua BEM sebelumnya belum pernah jadi ketua saya, duh kayaknya menyesal deh si Irwan punya bendum macem gini....
Tapi sekali lagi....pilihan tetap di BEM
Bukan BEM yang butuh saya, tapi saya butuh BEM. Jika saya ga mau jadi Bendum BEM, banyak koq orang yang bisa mengisi peran tersebut, dan mungkin jauh lebih baik dari saya. Saya pikir saya bukan yang terbaik, hanya orang yang terpilih. Memasuki hari ke 161 ini cukup banyak yang bisa saya petik hikmahnya, boleh dibilang ini seperti evaluasi Tengah Tahun, kebayang ga sih waktu pertama kali mencairkan uang untuk konsumsi mahasiswa saat debat TVRI, saya lompat-lompat sendirian di tangga dekanat, meskipun saat sampai di BEM sok-sok elegan dan sadis jalannya. Ketika bertemu dengan para ketua lembaga, jujur saya sempat kecewa, waktu itu yang saya lihat sekian banyak pimpinan itu meyakinkan saya untuk ber"disiplin" dalam mencairkan dana, dan berharap saya memberikan jatah yang besar untuk lembaga m,ereka. Tapi masalah kedisiplinan ternyata sempat mengalaami "nol besar",susah digerakin, meskipun ada juga lembaga yang tepat janji, sempat ngamuk-ngamuk ga jelas, nganggap mereka itu "pria-pria menjengkelkan" padahal saya sendiri juga " Jeng Kelin" huihi....nmereka :Mas Salah saja ya....peace...hanya mau jujur....
Kecewa juga dengan salah satu departemen bem yang saya jatah besar, karena saya mempounyai harapan yang besar departemen itu bia berkembang pesat,tapi justru departemennya bermasalah, sempat kecewa juga dengan bendahara lembaga yang kurang bisa mensosialaisasikan proses pencairan dana, ke bawahan, sehingga saya harus turun tangan ke "jalan". Kecewa dengan dalam BEM sendiri yang susah banget buat digerakin pencairan danya, buat dibuat transparansinya, kecewa dengan teman-teman DPM yang kurang mengerti cara menghadapi orang Koleris Melankolis dan cenderung Perfectionist seperti saya, kecewa sama Ketua BEM, karena kadang ga ada di saat saya butuh,kecewa karena sering dibanding-bandingin dengan Bendum tahun lalu, kecewa...dan kecewa....
Tapi semua itu hanyalah pilihan, jika ada pilihan yang lebih baik daripada kecewa kenapa tidak diambil. Bendahara-bendahara departemen itu sama seperti saya 2 tahun yang lalu, butuh waktu untuk membuat SPJ tanpa cacat, ketua-ketua itu juga sedang belajar untuk menjadi pimpinan yang baik, dan bisa jadi mereka jadi ketua pun juga karena terpilih bukan karena mereka terbaik, tidak semua bendahara lembaga diajari public speaking, mereka tidak seberuntung saya yang sudah did didik dengan llobbying, negosiasi dengan dekanat, dan sebagainya, DPM juga bukan psikolog, jadi mereka perlu juga belajar mengawasi seorang Koleris Melankolis seperti ini, ga langsung bisa mengawasi setelah sekali bekerja sama tentunya, dan dengan ketua BEMnya...ketua itu sibuk ya...wjar koq jika saya harus lebih mandiri,
Dan seperti kata Sekjend BEM 2010, " nikmatilah BEM dengan cinta"....cinta pada kebaikan, menyibukan diri dengan hal yang baik, merupakan salah satu bagian dari perjalanan di BEM ini, jadi kenapa tidak????
Cinta memang tak selama nya merah muda
Kebaikan tak selamanya langsung terasa manis saat dikecap dengan lidah.....
Begitu pula di sini, semoga bisa menyelesaikan Tugas Akhir Fakultas BEM MIPA, dan mempresentasikan Skripsi LPJ nanti saat SUM dengan baik,
Semangat!!!!!!

Sabtu, 08 Mei 2010

catatan kecil saja-->tentang uang (1 )

Desember 2009
Akhir tahun, ahh...rasanya biasa saja. Tak ada "greget" atau sesuatu yang bisa dirasakan seperti kebanyakan orang. Persiapan resolusi, persiapan terompet, jalan-jalan ke luar kota, akhir tahun yang di isi dengan menghambur-hamburkan uang atau apalah...entah di dunia ini saya mengenal begitu banyak orang yang terus dan terus mencari suatu situasi yang layak disebut dengan "bahagia", "happy" atau arrgggg...whatever you say.Yoi...yang penting happy. Tanpa pernah mengerti sebelujmnya apa definisi dari bahagia itu sendiri. Sebenarnya bahagia itu apa sih???? Itu juga kadang masih menjadi suatu perdebatan yang tidak penting untuk dilakukan. Ada yang menyebut bahagia itu tidak untuk dicari tapi diciptakan, ada yang menyebut bahagia itu dengan melakukan banyak hal buat orang lain. Yapz....jadi merasa berguna bagi orang lain, atau di satu sisi justru ada yang mengatakan bahagia itu ya rasa senang yang kita rasakan ketika kita pergi jalan-jalan dengan orang-orang yang kita sayangi, punya banyak hal like mobil mewah, laptop mewah, uang banyak, punya pulau pribadi, jet pribadi kayak di sinetron tivi yang menurut saya kadang terlalu berlebihan dan terlalu absurd untuk saya lihat dalam kehidupan pribadi. Ironis memang meskipun hidup di kalangan masyarakat menengah ke atas, tapi fenomena uang saku jatah hidup satu bulan sudah habis di pertengahan seperti hal yang wajar. Ternyata semakin banyak harta kekayaan yang kita miliki semakin banyak hal yang kita inginkan. Besar pengeluaran kadang tak sebanding dengan pendapatan. Dan pengeluaran yang besar itu juga dipengaruhi oleh faktor prestise, gengsi, dan saudara-saudaranya...
harggg...kali ini saya ingin bicara tentang uang. Bulan ini saya harus membiasakan diri dengan uang. Uang, uang dan uang. ...
Mengapa harus aku?
Mengapa harus uang???
Aih....aku tak punya banyak alasan untuk menolak, meski hatiku tak bisa menerima.
Harus diapakan uang sebanyak ini...
untuk hal-hal yang berguna..
Lalu makna dari berguna itu apa, makna berguna itu relatif juga kan, Sama relatifnya dengan makna bahagia itu sendiri. Ahhh...apakah sebagai orang sains saya juga harus menyelesaikannya dengan berdasarkan teorema relatifitas einstein. Terlalu bodoh dan membuang - buang waktu sepertinya. Tidak tepat...tapi waktu terus berjalan cepat. Dan uang ini harus segera di urus, sebelum dia semakin tak terurus, tercecer entah kemana...

Catatan tentang uang desember 2009

Kamis, 04 Maret 2010

Betapa Nikmat Allah itu begitu banyak....

Betapa nikmat yang diberikan oleh Allah itu luar biasa banyaknya. Begitulah yang pu rasakan di bulan maret ini. Subhanallah, ditengah kesibukan membangun BEM,,hmm indah juga ternyata rasanya. Kembali disibukan dengan banyak aktivitas. Aktivitas yang diniatkan untuk Allah. Indah rasanya...manis pokoknya...hehe

Minggu, 14 Februari 2010

FILOSOFI KUE

Tulisan ini di dedikasikan untuk orang-orang besar yang telah membesarkan saya :

Saya suka kue, karena kue itu manis. Kue itu enak, kue itu mengenyangkan.

Saya suka kue karena kue membuat perut saya kenyang, kue bisa membuat badan saya lebih besar.

Kamu suka memberi saya kue...

Tapi...

kue yang kamu buat tidak enak di lidah, membuat saya mual, saya ingin muntah...saya tidak mau makan kue pemberian kamu...saya ga mau....

Kue yang kamu beri "kue penghujatan", "kue kemarahan""kue kedisiplinan",dan kue-kue lain yang membuat perutku bergolak...

saya tak tahan saya ingin muntah...sekarang...sekarang...

Sekarang....

bukan sekarang...

tapi kemarin....

bukankah muntah adalah efek orang yang tidak mampu mengendalikan masalahnya....

seperti katamu kemarin,,,mengapa saya harus muntah..

jika air putih mampu menetralkan lambung yang terlalu asam, air liur yang terlalu basa...

Mengapa harus muntah jika kue ini mengandung banyak gizi, banyak vitamin, banyak mineral, yang membuat saya lebih kuat dari sebelumnya..

Membuat saya lebih tenang, membuat saya lebih sehat, lebih kuat dan sanggup memberikan yang terbaik...

Saya mau kue lagi...biar saya bagi dengan yang lain...

atau ajari saya membuat kue...biarkan saya buatkan orang lain kue-kue seperti yang kalian buat, biar mereka kuat, biar mereka sehat dan membuat dunia menjadi indah dan surga di tangan mereka.

Rabu, 13 Januari 2010

MENJADI DEWASA ITU BAHAGIA

Beberapa hari yang lalu ada seorang adik tingkat yang protes terus ke saya. Dan yang sedikit tidak mengenakan dia protes sebelum menanyakan ke saya, mengapa saya tidak melakukan hal yang dia inginkan, tetapi langsung menyalahkan, dan memojokan saya, bahsa kerennya menghujat. Setelah ngobrol, mendengarkan semua hujatannya dan memberikan jawaban dan penjelasan, sambil meringis malu,"maaf, mbak ini proses saya menuju dewasa"

Saya hanya tersenyum, sadar bahwa kemarin mungkin saja saya melakukan hal yang sama. Memprotes ke orang-orang yang dianggap lebih dewasa dengan membesar-besarkan,"orang dewasa harusnya lebih paham". Meskipun justru setelah sekian lama termenung saya sadar, saya yang tidak pernah mencoba memahami bagaimana cara mereka memahami saya.Kemarin saya berpikir dewasa itu jarang ada bahagianya. Tapi....

Selama ini saya selalu berpikir, masa paling bahagia, masa paling menyenangkan adalah masa kanak-kanak atau setidaknya masa remaja yang masih bisa dianggap masa kekanak-kanakan. Bagaimana saya berpikir masa-masa itu tidak indah. Saya tidak punya pikiran-pikiran yang membuat otak saya ruwet, segala sesuatu yang saya rancang dalam jalinan syaraf-syaraf otak saya hanyalah sesuatu yang simple. 

Dulu ketika saya masih berusia 5 tahunan, setiap bangun pagi, yang saya pikirkan adalah berangkat ke sekolah, mandi dulu, kalau masih kedinginan, minta air panas, dan bunda pasti akan menyanggupinya. Dulu yang saya tahu, saya berangkat ada sarapan pagi yang sudah siap dan  semua tinggal santap, ada ayah dengan beberapa lembar rupiah di tangannya untuk uang jajan hari ini siap masuk ke kantong baju seragam ber emblem SD. Yah....semuanya sepertinya biasa saja. Gampang-gampang saja. 

Dulu saya masuk ke dalam kelas, dengan PR yang sudah siap dikerjakan, materi pelajaran anak SD yang tidak susah-susah amat, nilai Seratus siap dicetak di lembar buku tulis saya, teman-teman yang menyenangkan, jarang anak-anak di kelas mengganggu saya, paling masalah besar saya dulu adalah, jam istirahat saya yang kacau gara-gara kakak kelas saya yang menyebalkan, jahil dan suka nakalin. Selebihnya...sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Sekolah adalah tempat dimana saya selalu menerima raport dengan posisi 3 besar. Sekolah adalah tempat dimana saya mengantarkan penghargaan-penghargaan penguykir prestasi.

Pulang dari sekolah, saya punya banyak waktu untuk nonton TV, main, baca majalah yang di langgan oleh ibu saya. Masih ingat sekali Majalah Bobo yang selalu terbit setiap Kamis. Ya...kalau dipikir saya benar-benar hidup di dunia sebagai "aku" bukan "kita". Yang saya pikirkan adalah "aku", entah "aku senang", "aku sedih", "aku marah", tanpa berpikir kondisi "kamu" "dia" mereka","kalian" yang penting "aku untung"urusan subjek lainnya terserah Anda. Masalah saya waktu SD hanyalah guru matematika yang galak, celoteh teman-teman saya yang memperolok karena saya anak tunggal, dikata-katain manja, sakit-sakitan dan bermusuhan dengan dokter yang hobbynya nyuntik " ga bilang-bilang. Waktu itu saya tak pernah berpikir, dari manakah uang yang diperoleh ayah saya untuk bayar sekolah, bayar uang jajan, bayar langganan majalah Bobo yang selalu datang tepat waktu, saya tidak pernah berpikir, jam berapa ibu saya bangun menyiapkan sarapan pagi, bagaimana mengatur menu makanan yang bergizi, dan saya tak pernah berpikir apakah selamanya teman-teman sekelas saya selalu baik.

Masuk SMP, saya pindah rumah. Masalah saya, saya kehilangan teman-teman masa kecil, saya kehilangan lingkungan yang Islami, tetangga-tetangga saya aneh. Kerjaannya tiap hari nge-gosip. Saya jalan kaki lupa ga nyapa di gosipin, dapat nilai bagus di sekolah pun juga di gosipin, yang"pasti cuma nyontek lah, inilah itulah...., masyarakat tempat saya tinggal masyarakat oposan. Mereka merasa berhak mengatur hidup saya, dari dimana saya harus sekolah, dan siapa orang yang seharusnya menjadi pacar saya. Ya...karena waktu itu saya mulai beranjak ABG. Dan ga ada aturan Islam yang dipahamkan dan diajarkan ke otak saya, sehingga menjerumuskan saya ke jalan jahiliyah ini.

Tapi sesadis-sadisnya perlakuan "oknum-oknum" yang menyebalkan, saya punya hal-hal yang bahagia. Menurut beberapa orang hal-hal yang membahagiakan saya waktu itu, Saya masuk SMP yang kata tetangga-tetangga saya keren npadahal menurut ukuran saya SMP saya "ecek-ecek". Apalgi waktu itu NEM yang saya punya amat sangat cukup untuk menembus SMP yang lebih Te_O_Pe menurut ukuran saya. Hanya alasan yang dekat rumah, saya masih orang baru belum ngerti jalan. Akhirnya saya nurut.

Saya punya gank yang bersaing dengan gank lain, dan walaupun pernah kalah tapi saya pernah menang. Main labrak-labrakan yang menjijikan seperti di sinetron pun pernah saya lakukan. Itulah kebahagiaan saya, menjadi Queen of the gank.Menjadi yang paling dominan.

Saya aktif di ekstra kurikuler KIR, punya penelitian untuk pertama kali, dan menjadi satu-satunya anak se angkatan yang punya karya tulis.

Saya punya teman dekat laki-laki, kata semua orang di SMP saya. Dia pacar saya. Kata saya, "dia teman" Kami ga pernah bilang cinta dan ga pernah putus, tapi perilaku kami memang mirip dengan oirang pacaran.Dia orang beken, pintar dan mukanya ga jelek-jelek amat. Dan semua mata anak-anak perempuan se-angkatan dan adik kelas, memandang iri dengan saya. Iri untuk sesuatu hal yang sebenarnya saya ga bahagia. Karena di tengah kepura-puraan itu jauh dilauubuk hati saya, saya suka dengan orang lain dan menurut saya dia lebih hebat. Tapi dia sangat baik, menolong saya, memberi alasan untuk menolak"tembakan" kakak kelas saya yang menurut saya ga ada yang bener. Karena kakak-kakak kelas saya yang najong-najong itu jadi berhenti memaksa untuk bertamu ke rumah setiap saya bilang, " si X udah mau main","saya ga bisa pacaran sama kakak, kan ada X" jijik banget deh....Selain itu saya juga numpang tenar, karena meskipun saya punya segudang prestasi si akademik yang bagus tidak menaikan pamor. Yang menaikan pamor adalah "Mbak Pu pacarnya Mas X". Mungkin karena saya yang terlihat bego-bego aja, anti mode dan ga cantik, rambutnya ga bau rebonding,ga bau  toning, apalagi bau kriting koq bisa-bisanya mendampingi seorang X selama 3 tahun penuh di SMP eh salah 2 tahun. 

Tulisan saya selalu nangkring di Mading sekolah dan menjadi The best of....mengundang kontroversi, karena saya mencaci maki fasilitas sekolah saya yang menurut saya ga layak, guru-guru SMP saya yang ga mutu, kurang wawasan dan ga bisa menjawab pertanyaan yang saya ajukan, jam pelajaran yang banyak kosongnya, siswa-siswa yang hobbynya nongkrong di kantin bolos sekolah, pacaran yang ga sehat di dalam kelas, dan mencontek dan memalak uang jajan, pakai sepatu putih, cuma pakai item kalau upacara doang.....hufff saya terlalu idealis dan disiplin.

Saya punya adik, untuk sementara saya menikmati udara kebebasan...

Masuk SMA, hal-hal yang membahagiakan saya...

Diterima di sekolah yang saya inginkan, bukan yang diinginkan tetangga. Waktu itu saya merasa saya berhasil memenangkan pertempuran. Saya hebat, berhasil melawan argumen ratusan penduduk di sekitar saya yang menyaran kan untuk masuk ke sekolah terdekat dengan alasan kemungkinan saya untuk memeproleh beasiswa lebih banyak. Dan dengan sotoynya saya menjawab, "saya ga cari beasiswa, saya cari kemajuan, saya pengen maju, makanya saya mau ngumpul dengan orang-orang yang mau berpikir maju bukan denga orang -orang terbelakang, bukan dengan guru-guru yang ga punya semangat mendidik" Sok banget ya saya ini...hehehe.

Saya punya teman-teman yang cerdas, dan menuntut saya untuk menjadi lebih baik.

Saya punya KIR Dimensi, ekstra kurikuler yang mengantarkan saya menjadi seorang gila riset, karya ilmiah saya naik, ga cuma satu dan meskipun berkelompok tapi tema yang kami angkat lebih keren daripada waktu SMP. Kejuaraanya pun lebih bergengsi. Saya punya banyak jadwal penelitian yang ujung-ujungnya tour bareng.

Saya punya guru-guru yang hebat, berwawasan luas, saya tidak punya jam kosong, kantin saya bersih ga ada anak yang mau nongkrong kalaupu mau, amat sangat jarang dan langsung kena semprot BP.

Saya nekat ikutan jalan-jalan ke Bali dan melewatkan ajang olimpiade sains yang harus saya ikuti.

Dan yang saya anggap tidak membahagiakan:

Saya harus kost, karena jadwal sekolah terlalu padat., sedangkan "Insert Lokal" di tempat saya tinggal sudah meyebarkan gossip saya pulang sampai malam gara-gara saya pacaran mulu di "plaza ( sebuah tempat maksiat di tempat saya tinggal yang sudah amat terkenal).

Saya harus mengatur uang jajan untuk 1 bulan padahal teman-teman saya masih mingguan.

Saya punya teman kost yang ukhti-ikhti dan menurut saya terlalu bawel kalau nyeramahin saya tentang adab pergaulan.

Saya anti Rohis...karena anak Rohis menurut saya meyebalkan...

Saya masuk ke kelas unggulan, dan membuat saya hampir gila karena persaingan di kelas saya membuat saya sesak napas.

Saya dipanggil untuk ikut seleksi siswa teladan, padahal saya mulai menikmati indahnya bolos, telat, merayu satpam, ga ikut upacara hari seninn, bolos pelajaran sejarah karena bikin ngantuk,membohongi guru BP, dan lain sebagainya. Yang pasti jika saya diseleksi saya ga bisa lagi melakukan hal bodoh itu.

Saya kejaring tim Olimpiade sekolah, dan menghabiskan waktu libur dengan menelan suplemen kimia yang aneh bin ajaib yang membuat kepala saya pusing, sedangkan teman-teman saya bebas liburan kemana saja. 

Tapi pernahkah saya berpikir semua hal itu menjadi membahagiakan sekarang...semua hal, entah hal yang sebelumnya memang membuat saya bahagia, maupun hal hal yang dulunya menyebalkan.

Ya...kebahagiaan saya adalah say sukses melalui masa-masa itu dan bisa mnerima skenario Allah yang luar biasa Indah ini. Dan sekarang saya pun menghadapi masalah yang jauh lebih pelik dari itu. Tapi di satu sisi saya bisa mendengarkan dan memberi solusi dengan teman-teman yang mengalami maslah yang sudah saya alami beberapa tahun yang lalu. Ya saya bahagia saya menjadi dewasa.

Selasa, 12 Januari 2010

JANUARI

Januari, semua orang tahu dia adalah bulan yang menjadi pembuka di awal tahun masehi. Januari telah menjadikan dirinya sebagai starting, awalan, awalan yang penuh dengan semangat menggebu asa dan pengharapan bagi kebanyakan orang untuk menjadi lebih baik.

Jujur bagi saya untuk menjadi lebih baik, tak perlu menunggu Januari, namun ternyata tanpa saya sadari, saya pun kadang memulai sesuatu dengan parameter Januari.

Seperti hari ini, saya melihat bulan Januari 2010 di blog saya masih kosong, sama sekali belum menulis, iseng saya flash back. Ada apa di bulan Januari 2009 kemarin.Apakah sekarang saya jauh lebih baik daripada Januari kemarin?

Januari 2009

Saya sibuk menulis tentang adegan bongkar kamar lantaran mau ujian, ketiduran ga ikut aksi palestina, dan kesedihan saya saat melihat pesta kembang api di Jogja karena di belahan lain ada bombardir besar-besaran oleh Israel.

Saya menuliskan tentang resolusi-resolusi saya setahun ke depan, IP harus naik, dan lain sebagainya.

Saya menulis tentang kepenatan di BEM karena harus belajar sambil bikin proker.

Saya menulis tentang perlengkapan P3K yang harus saya persiapkan karena saya jadi koord. P3K untuk pertama kalinya.

Saya menulis tentang pelantikan obama

Saya menulis tentang kesal saya terhadap seseorang.

Akhir Desember 2009

Saya tidak bongkar kamar, karena sibuk kuliah tambahan, persipan mau ujian, dan rapat terus setiap hari. Insya Allah bongkar dan beresin kamar bakal saya jalankan tengah bulan ini.

Saya tidak ikut aksi, tidak menyisihkan uang untuk Palestina. Astaghfirullah apa bedanya dengan tahun kemarin....

Saya nonton pesta kembang api, tapi hampa....

Saya kesepian...

Saya pengen pulang, tapi keadaan memaksa saya untuk tidak pulang...

Dan di loteng tengah malam, sesak napas karena kedinginan....lalu turun, tidur dan bangun pagi tak sabar untuk menjejakan kaki di istana ayah bunda.

Saya menuliskan resolusi, tapi kali ini saya melibatkan orang lain. Untuk pertama kalinya, saya menuylis berbagai rencana, menulis jadwal sambil bertanya,

"Wan, saya boleh KKN?"

"Wan, saya boleh PKL?"

"Wan, saya boleh tetap jadi partimer di Taman Pintar kan?"

"Wan, saya mau punya proyek bla..bla..bla...?"

Dan..

Ada yang dijawab,

"Boleh..."  ada yang "Boleh tapi..." ada juga yang "pokoknya ga boleh, ga bisa diganggu gugat"

Untuk pertama kalinya saya tak seegois biasanya.

Hari ini saya sudah tidak mengeluhkan kepala yang penat karena tabrakan dengan amanah. Yeah...semua baik-baik saja jika kita mempersiapkannya. Renstra, dekanat, cari muka demi dana bisa turun lancar, perhatian dengan adik-adiknya...yah...semua jauh lebih berat daripada mikir proker saat ujian.

Dan sekarang saya sedang belajar untuk tidak kesal dengan banyak orang, mereka semua sayang tapi tidak tahu cara menyayangi kita seperti apa. Semangat, menyambut keluarga Sinergis KOntributif

Selasa, 15 Desember 2009

BAIK SANGKA

Terinspirasi oleh tulisan Salim A.Fillah, betapa selama ini kta telah dibiarkan untuk hidup da;am sebuah khalayak yang terlalu baik sangka.

"Saya percaya sama pu."

"Saya mendukung mbak pu 100 % untuk memegang amanah itu."

Astagfirullahaladzim....istighfar...hanya itu yang bisa saya lakukan. Ada sebuah rasa ketakutan yang menghinggapi diri saya. Ketakutan bahwa, sepertinya saya hanya membohongi publik. Dengan segala macam kelemahan saya, dengan segala macam kekurangan saya, ketidak profesionalan saya, dan yang pasti akan ada banyak kekhilafan yang bisa saya lakukan tanpa sepengetahuan mereka. Memang Allah Maha Tahu, dan dariNya fungsi kontrol dan pengawasan itu dilakukan. Tapi sekali lagi saya manusia biasa, saya bukan malaikat seperti yang mereka agung-agungkan selama ini.

Saya tak sanggup membayangkan, betapa kecewanya mereka jika tahu iman saya yang berlubang-lubang. Saya tidak mengerti apakah mereka masih mau menganggap saya saudara dengan segala kekurangan.Dengan buruknya hati yang saya miliki.

Tadi pagi, saya bersandar menangis di depan teman-teman. 

"Tolong saya tidak mampu"

"Bukan tidak mampu, tapi belum mampu" sangkal mereka.

Dan sekali lagi saya terdiam. Inilah bedanya saya dengan Nabi. Nabi dipercaya karena dia dikenal. Sedangkan saya dipercaya karena mereka tidak kenal dan tidak tahu siapa saya. Mereka tidak mengenal saya secara utuh sehingga mereka berfikir saya pantas memegang amanah itu.

Satu-satunya cara yang terbijak...

Hargailah kepercayaan mereka itu dengan berusaha sebaik-baiknya, memberikan yang terbaik

“ya Allah, jadikan aku lebih baik daripada semua yang mereka sangkadan ampuni aku atas aib-aib yang tak mereka tahu..”

“ya Allah jadikan aku dalam pandanganku sendiri sebagai seburuk-buruk makhluq
dalam pandangan manusia sebagai yang tengah-tengah dan dalam pandanganMu sebagai yang paling mulia..”

Kamis, 19 November 2009

LAKI-LAKI MODAL DUIT PEREMPUAN MODAL CINTA

Cuma sekedar write again...halah,,,intinya nmenulis kembali...kejadian seminggu atau 2 minggu yang lalu. Ah, entahlah aku lupa. Gara-gara baca tulisan blog staff, jadi keinget sama hal bodoh di tempat itu.
Kuliah...isinya orang dewasa, katanya. Entahlah dewasa secara fisik atau psikologisnya juga, yang pasti katanya orang-orang kuliah itu orang dewasa, jadi wajar kalau yang dibicarakan hal-hal yang dewasa.
Tak perlu beertele-tele lah, ga munafik selama kuliah ini pasti sudah pernah ngomongin tentang nikah. Coz kayaknya udah ga jaman kali ngomongin pacaran...itu cerita SMA( hoek...hoek...hehe piss...). Tapi aneh dan ga biasa kalau di tempat yang biasanya begitu serius berubah menjadi ruangan yang hiruk pikuk kayak ibu-ibu arisan sambil nge-gosip, udah gitu mendatangkan narasumber yang biasanya tak henti bicara tentang teori konspirasi politki, mengkritisi pemerintahan, dan saudara-saudranya, berubah membahas topik tentang nikah. Ah tak bisa dipungkiri, si narasumber itu juga manusia koq, SBY saja menikah, Antasari Azhar aja punya istri apalagi si narasumber,hahaha....
Jadi begini ceritanya,,,
Suatu hari aku sowan ke tempat bernama "Pojokan Serius". Hari itu cukup banyak orang hadir di sana. Ada Pimpinan "Pojokan Serius", ada Kepala-kepala divisinya, dan beberapa staff yang tumplek bleg di teras depan, pertama-tama dengerin mereka ngobrol. Topik, kuliah...praktikum...IP turun dan sebagainya.
Tak berapa lama satu per satu orang masuk ke dalam ruangan "Poojokan Serius"
Aku menyusul masuk ke dalam. Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, tiba-tiba si Pimpinan "Pojokan Serius" nyeletuk
"Saya ini kan ketua "Pojokan Serius", masa nanti kalau lulus ga ada yang ngantri. Ya ga mungkin lah, ketua "Pojokan serius" kan yang ngantri banyak"
Puspita : ternganga.....mode on....
Semua yang berjenis kelamin perempuan di ruang itu langsung berteriak heboh, menyangkal pendapat si "pemimpin Pojokan Serius" Sampai akhirnya,
"Ini kenapa sih yang dibahas jadi nikah-nikah"
"wah iya, ga biasa...masak diskusi "Pojokan Serius" tentang nikah"
"seru kali...sekali-sekali bikin Diskusi public....Kaderisasi Masa depan : Kuliah vs Nikah"
"iya...pasti yang datang banyak..."
"itu penting tahu.,...kalian itu harus merancang masa depan" kata narasumber.
"ah...tapi itu kan masih lama"
"eh...tapi mbak-mbak kostku udah pada persiapan lo?" ada yang menimpali
"persiapan apa?"
"perbaikan penampilan....pada ke salon, pedicure manicure, pakai produk XXXXX yang kalau pagi dikocok separo, kalo malem dikocok keseluruhan ( ga tahu kayaknya kebalik deh)"
"hah masa iya sih? kamu make kayak gitu juga?" narasumber bertanya
"ya ga lah...kan aku bilang aku belum mikir yang kayak gitu"
"dasar bilang aja lu ga punya duit buat beli prodak salon XXXXX"
hahahaa.....seruangan ketawa semua.
Terus....karena baru saja bicara duit....tiba-tiba...
Ada yang ngomong,
"Laki -laki itu modalnya duit, perempuan modalnya cinta"
Semua yang laki-laki menyangkal
"cinta aja ga cukup harus ada kelebihan"
" ya iya cinta itu kan juga kelebihan seorang wanita"
semua tertawa terbahak-bahak....
Narasumber menengahi...
“hai kalian, para wanita, jika suatu saat kalian dilamar oleh seorang laki-laki yang baik agamanya, baik akhlaknya, baik, baik kesehatan, dan keturunannya, maka janganlah sekali-kali kalian menolaknya”.
Terus ada yang nanya
"kalo mukanya gak baik, gimana??” di tolak gak apa-apa kan???”
"“nanti saya tanyakan bapak saya dulu ya”.
Semua tertawa lagi....
"sudah-sudah bahasannya di ganti"
Sesorang mengeluarkan topik baru...
"Topik baru...topik baru....nanti kalau punya anak mending 2 apa 3?"
"dasar ini mah sama aja..."
"berapa dulu istrinya...?"
ketawa lagi.....
"lah mumpung nia ada para wanita, kalian setuju ga sih dengan poligami"
" aku ga setuju" ada yang jawab
"kenapa?"
"ya ga setuju lkah kalu suaminya mati warisannya dibagi-bagi dapaetnya dikit, mending monogami aja , duit sama warisan jatuh ke satu orang"
ketawa lagi...
"dasar matre..."
"sekali lagi laki-laki modal duit, perempuan modal cinta..."
ketwa....
dasar bodoh....ga penting...tapi bakal tak inget-inget hal bodoh oini. entah siapa yang duluan menikah, yang pasti akan aku tanyaknan apakah statemen "laki-laki modal duit, perempuan modal cinta" benar-bernar berlaku nantinya.

LAKI-LAKI MODAL DUIT PEREMPUAN MODAL CINTA

Cuma sekedar write again...halah,,,intinya nmenulis kembali...kejadian seminggu atau 2 minggu yang lalu. Ah, entahlah aku lupa. Gara-gara baca tulisan blog staff, jadi keinget sama hal bodoh di tempat itu.
Kuliah...isinya orang dewasa, katanya. Entahlah dewasa secara fisik atau psikologisnya juga, yang pasti katanya orang-orang kuliah itu orang dewasa, jadi wajar kalau yang dibicarakan hal-hal yang dewasa.
Tak perlu beertele-tele lah, ga munafik selama kuliah ini pasti sudah pernah ngomongin tentang nikah. Coz kayaknya udah ga jaman kali ngomongin pacaran...itu cerita SMA( hoek...hoek...hehe piss...). Tapi aneh dan ga biasa kalau di tempat yang biasanya begitu serius berubah menjadi ruangan yang hiruk pikuk kayak ibu-ibu arisan sambil nge-gosip, udah gitu mendatangkan narasumber yang biasanya tak henti bicara tentang teori konspirasi politki, mengkritisi pemerintahan, dan saudara-saudranya, berubah membahas topik tentang nikah. Ah tak bisa dipungkiri, si narasumber itu juga manusia koq, SBY saja menikah, Antasari Azhar aja punya istri apalagi si narasumber,hahaha....
Jadi begini ceritanya,,,
Suatu hari aku sowan ke tempat bernama "Pojokan Serius". Hari itu cukup banyak orang hadir di sana. Ada Pimpinan "Pojokan Serius", ada Kepala-kepala divisinya, dan beberapa staff yang tumplek bleg di teras depan, pertama-tama dengerin mereka ngobrol. Topik, kuliah...praktikum...IP turun dan sebagainya.
Tak berapa lama satu per satu orang masuk ke dalam ruangan "Poojokan Serius"
Aku menyusul masuk ke dalam. Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, tiba-tiba si Pimpinan "Pojokan Serius" nyeletuk
"Saya ini kan ketua "Pojokan Serius", masa nanti kalau lulus ga ada yang ngantri. Ya ga mungkin lah, ketua "Pojokan serius" kan yang ngantri banyak"
Puspita : ternganga.....mode on....
Semua yang berjenis kelamin perempuan di ruang itu langsung berteriak heboh, menyangkal pendapat si "pemimpin Pojokan Serius" Sampai akhirnya,
"Ini kenapa sih yang dibahas jadi nikah-nikah"
"wah iya, ga biasa...masak diskusi "Pojokan Serius" tentang nikah"
"seru kali...sekali-sekali bikin Diskusi public....Kaderisasi Masa depan : Kuliah vs Nikah"
"iya...pasti yang datang banyak..."
"itu penting tahu.,...kalian itu harus merancang masa depan" kata narasumber.
"ah...tapi itu kan masih lama"
"eh...tapi mbak-mbak kostku udah pada persiapan lo?" ada yang menimpali
"persiapan apa?"
"perbaikan penampilan....pada ke salon, pedicure manicure, pakai produk XXXXX yang kalau pagi dikocok separo, kalo malem dikocok keseluruhan ( ga tahu kayaknya kebalik deh)"
"hah masa iya sih? kamu make kayak gitu juga?" narasumber bertanya
"ya ga lah...kan aku bilang aku belum mikir yang kayak gitu"
"dasar bilang aja lu ga punya duit buat beli prodak salon XXXXX"
hahahaa.....seruangan ketawa semua.
Terus....karena baru saja bicara duit....tiba-tiba...
Ada yang ngomong,
"Laki -laki itu modalnya duit, perempuan modalnya cinta"
Semua yang laki-laki menyangkal
"cinta aja ga cukup harus ada kelebihan"
" ya iya cinta itu kan juga kelebihan seorang wanita"
semua tertawa terbahak-bahak....
Narasumber menengahi...
“hai kalian, para wanita, jika suatu saat kalian dilamar oleh seorang laki-laki yang baik agamanya, baik akhlaknya, baik, baik kesehatan, dan keturunannya, maka janganlah sekali-kali kalian menolaknya”.
Terus ada yang nanya
"kalo mukanya gak baik, gimana??” di tolak gak apa-apa kan???”
"“nanti saya tanyakan bapak saya dulu ya”.
Semua tertawa lagi....
"sudah-sudah bahasannya di ganti"
Sesorang mengeluarkan topik baru...
"Topik baru...topik baru....nanti kalau punya anak mending 2 apa 3?"
"dasar ini mah sama aja..."
"berapa dulu istrinya...?"
ketawa lagi.....
"lah mumpung nia ada para wanita, kalian setuju ga sih dengan poligami"
" aku ga setuju" ada yang jawab
"kenapa?"
"ya ga setuju lkah kalu suaminya mati warisannya dibagi-bagi dapaetnya dikit, mending monogami aja , duit sama warisan jatuh ke satu orang"
ketawa lagi...
"dasar matre..."
"sekali lagi laki-laki modal duit, perempuan modal cinta..."
ketwa....
dasar bodoh....ga penting...tapi bakal tak inget-inget hal bodoh oini. entah siapa yang duluan menikah, yang pasti akan aku tanyaknan apakah statemen "laki-laki modal duit, perempuan modal cinta" benar-bernar berlaku nantinya.

PILIHAN

Ini memang sulit tapi ini pilihan
Ini memang melelahkan tapi ini pilihan

Sejenak mengingat,
20 Desember 2008...
Resmi menjadi salah satu bagian,
Resmi menjalankan pilihan,
Pilihan untuk berada di tempat itu,
Pilihan untuk bersama orang-orang itu,
Pilihan untuk beramal dengan ikhlas bersama mereka

Ada orang yang sebelumnya sudah ku kenal
Ada orang yang sebelumnya hanya tahu nama
Ada orang yang sering ku lihat, tapi tak pernah kutahu siapa dia
Dan ada orang yang sama sekali namanya tak pernah terlintas di otakku
apalagi wajahnya....

Sebulan...dua bulan...
Semua mulai ku kenal,
Mulai kutemukan chemistryku dengan beberapa orang
Kecocokan jiwa yang berjalan secara alamiah
Tapi mulai kutemuikan pula friksi-friksi dengan beberapa yang lainnya

Tiga bulan...empat bulan...
Amanah semakin banyak di pundak,
Masalah semakin menumpuk di otak,
Kuliah, orang tua, organisasi, teman, dan lainnya yang ta bisa disebut
Semua butuh perhatian...

Lima bulan...enam bulan...
Tidur paling akhir...bangun paling awal
tersenyum di depan, menangis di belakang
membuka pintu saat ada yang mengetuk,
padahal mata sudah mengantuk
mendengar curhat,
meski mulut sebenarnya ingin menghujat...
memberi solusi, meskipun diri sendiri butuh diobati..

Tujuh bulan...delapan bulan...
Semua seperti biasa,
melalui hari-hari yang penuh dengan aktivitas
meskipun harus ada sekian banyak rencana tertunda
semua ikhlas dikorbankan..
amalam yaumiah dikuatkan saat sadar jiwa butuh ruhiyah yang kuat
ketergantungan dengan Rabb dikuatkan karena diri merasa butuh dengan DIA

Sembilan bulan...sepuluh bulan
Aku kelelahan,,,
Ingin sejenak melepas penat,
pintu yang dibiarkan tertutup meskipun tak henti di ketuk
ajakan berulang kali di tolak, meskipun menuju kebaikan
aku disorientasi
menganggap ini profesi
seperti artis yang dituntut perfect di depan penggemarnya
tertawa di depan teman-teman
menangis di belakang,,,
aku hampir kehilangan iman
tapi hanya segelintir saja yang membantu menguatkan..
yang lainnya menyalahkan, memojokan, dan terus membuatku tertekan

Sebelas...mendekat dua belas
aku rindu bangu lebih pagi...
aku rindu tidur lebih malam
aku rindu berlomba-lomba dalam kebaikan...
dan aku putuskan...
aku kembali ..
ke PILIHAN

Selasa, 03 November 2009

MAAF

Maaf, jika aku belum bisa menjadi teman yang baik untukmu. Maaf jika aku belum bisa menjadi saudara yang baik untukmu. Maaf dan maaf itulah kata yang bisa aku ucapkan, mengalir dari mulutku.

Masih terbayang kenangan setahun yang lalu, saat pertama kali aku dipertemukan denganmu. Ya, aku tahu. Kamu telah menancapkan paku di hatiku, menyisakan sedikit tangisan di sudut-sudut senyumanku.

Ada orang yang pernah berkata, demi sebuah kata maaf, dia akan berusaha menutup lubang di hati orang yang pernah dilukainya. Dan kaupun melakukannya.

Kau hapus semua citra burukmu, kau lepas image buruk yang sudah menempel di pandanganku.

Kau memang baik, maksudmu memang baik.

Tapi itu tidak tepat, bagiku memaafkan suatu hal yang mudah tetapi tidak dengan melupakan. Aku berfikir dengan melupakan permasalahan itu, aku akan bisa memaafkanmu. Sedang kamu memandangnya dengan memaafkan harus dilakukan baru kesalahan itu dilupakan.

Kamu selalu memenuhi permintaanku, seolah-olah aku dewi yang meminta dibuatkan seribu candi dalam semalam. Demi sebuah maaf dariku.

Tapi kawan, aku hanya bisa memberikan maaf itu dengan tulus setelah kamu tak lagi bertanya-tanya tentang aku padaku. Aku bisa memberi maaf itu jika kamu tak memberi perhatian yang berlebih untukku. Rumput bisa tumbuh subur biarpun tak disiram, bunga bisa mati karena terlalu banyak pupuk yang dituang.

Sama...aku terlalu kau pupuk dengn cinta yang berlebihan. Kamu takut kehilangan aku, kamu takut aku lari darimu. Sedikit aku bergerak, kamu akan bertanya. "Kamu kenapa?", "Kamu ada apa?"Sedikit aku tak muncul, kamu akn mencariku dan menyerangku dengan pertanyaan-pertanyan yang membuat aku muak dengan semua sikapmu. Dan kamu bertanya, "kamu belum memaafkan saya atas kesalahan setahun yang lalu?Kamu tidak punya kepercayaan terhadap saya sebagai saudara?"

Tolong...diamlah sejenak. Biarkan kepercayaan saya sebagai saudara se-iman tumbuh kepadamu. Jangan paksa saya untuk percaya sekarang, jika saya belum bisa menumbuhlkan kepercayaan.

Biarkanlah ukhuwah itu bersemi dengan sendirinya. Biarkanlah ia tercipta, tanpa harus diciptakan. Biarkanlah bahagia itu muncul, walau tak berusaha diciptakan, meskipun katamu kebahagiaan itu akan tercipta ketika kita menciptakannya. Sudahlah jika takdir mengatakan bahagia, maka kebahgaiaan itu akan datang juga tanpa harus dicari-cari.Pasrah...mungkin.Tapi darpada memaksakan diri. Dan biarkan luka itu mengering kembali, tanpa lobang yang membekas dihati.

Maaf..jika aku belum bisa melupakan.


Inspiring by......orang-orang yang pernah bertanya padaku "Lalu apa yang harus aku lakukan?"

SELAMAT PAGI DUNIA

Selamat Pagi Dunia...

Dan dirimu akan kugenggam di tanganku...

SEMANGAT!!!!

Senin, 26 Oktober 2009

UNTITLEEEED

Kemarin saya pulang kampung, sekedar meleopas kepenatan kuliah dan aktivitas organisasi. Menumpahkan rindu dengan keluarga adalah hal yang wajar bagi saya, duduk bercengkrama dengan bunda atau menelpon papa, bertanya jam berapa pulang hari ini.
Huh...kadang saya mengeluh, saya terlalu banyak dibesarkan bunda, makanya saya terlalu sensitif, dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngeluh. Tapi setelah saya berfikir ulang, sebenarnya saya kurang bersyukur.Saya dibesarkan oleh mereka berdua koq, hanya saja mereka punya cara masing-masing untuk mendidik saya.

Senin, 19 Oktober 2009

DISKUSI

Saya tidak suka diskusi itu saja,,,,

Rabu, 14 Oktober 2009

LAPTOPKU CHEMISTRYKU

Di kampus saya cukup banyak kenal dengan manusia-manusia yang identik dengan laptop. Bukan mukanya mirip laptop....tapi ada suatu keterkaitan antara dirinya dengan laptop. Entah dia seorang yang punya laptop, atau dia seseorang yang jago "mengutak-atik" laptop.
Banyak hal sebenarnya yang bisa saya pelajari dari mereka, mungkin itu pula yang membuat saya terlalu percaya diri membeli laptop sendiri, memilih-milih sendiri, terkesan asal mengambil, tapi sebenarnya selama bebearapa hari sebelum membeli saya ngobrol sana-sini, tanya ke sana kemari, tapi saya tidak mengajak orang yang bersangkutan untuk menemani membeli. Jadi keputusan terakhir saat proses transaksi, jelas di tangan saya.
Ada satu hal saya tak penah menyesal membeli laptop pilihan saya ini, meskipun dari segi merk...ecek-ecek, tidak ada bluetooth, maupun finger print log on apalagi smartface, atau teknologi canggih lainnya, misal pake intel centrino, pakai ATI Radeon atau apalah yang katanya kalau buat nge-game dapet gitu saya kuarang tahu. Yah, saya tidak peduli dengan itu, yang penting laptop ini bisa membantu saya bekerja, eh salah belajar dan berkarya.
Saya pernah ingat dengan kata-kata seseorang,
"Laptop pilihan dia adalah yang terbaik"
Ya...saya pun merasa laptop pilihan saya adalah yang terbaik untuk saya dan tentunya bukan untuk orang lain. Dengan kapasitas harddisk 160 GB, masih cukup menampung data, RAM 1 giga, tidak kurang untuk saya yang tak terlalu up date dengan program-program komputer. Colokan flash disk sampai 4, cukup membantu karena banyak banget orang-orang nyolokin flash ke laptop, apalagi waktu jadi sekretaris. Laptop saya ada, bisa buat express card maupun MMC, cukup membantu ketika saya ingin transfer data dari kamera digital, nge game bisa,nge net oke...oke saja dan yang pasti hobby saya menulis dapat dengan mudah saya salurkan. Mungkin itu yang membuat saya jatuh cinta dengan laptop saya. Dan nama dari laptop yang aneh bin ajaib, menunujkan karakter pemiliknya inilah yang membuat saya susah untuk tukar menukar dengan laptop lain, sekalipunh laptop itu lebih mahal ( kecuali kalau saya sudah butuh lo ya...)
Kemarin ada temen bilang sama saya,
"Saya pengen beli laptop"
"Mau yang seperti apa?"
"Saya pengennya laptop yang merknya "T"
"Kamu ada budget kan?"
"ada"
"ambilah laptop itu, kamu mnatabnya pakai itu"
Kemarin...
"Kata temenku, mendingan pakai yang merk "C"
"alasannya apa?"
"C itu lebih murah, kualitas juga OK"
"Kamu mau milih yang mana?"
"Kalau menurut saya C itu ga terlalu nyaman dipakai, ga tahu kenapa saya lebih suka A daripada C, itu juga harganya setara, kalau T itu emang keren koq, coba saya punya budget seperti kamu, pasti saya sudah beli T, tapi itu terserah kamu."
Tadi...
"Aku menyesal"
"Kenapa?"
"Karena aku mebeli laptop C, mengikuti kata teman, bukan kata hati"
"Oh..."
"Tolong ajari aku..."
"ajari apa?"
"Untuk bisa jatuh cinta dengan laptopku seprti kamu dengan laptopmu"
Mau pingsan...
"Berkaryalah dengan dia, gunakanlah ia untuk sesuatu yang bermanfaat, ketika kamu mampu memberi arti bagi banyak orang dengan laptop itu, pasti kamua kan sayang sekali dengna dia"
"Tapi sulit..."
"Aduh, masalahnya saya dulu milih sendiri, saya ga dengerin kata orang, mantab saya itu ya itu"
Saya terdiam, sejenak berfikir, bagaimana ya.....
Saya sendiri termasuk orang yang cukup sulit untuk menumbuh kan cinta dengan sesuatu yang saya tidak suka. Huh....kadang memang tak bisa dipungkiri ya, ketika kita memilih sesuatu harus berdasrkan kesadaran pribadi, bukan paksaan orang lain. Entah milih laptop, milih SO atau ga, milih ya apa ga untuk sebuah amanah. Tapi sayang kadang ada orang yang "marah-marah" sama kita dengan membesar-besarkan masalah "keegoisan pribadi" Tapi jika dilihat sebenarnya orang yang memaksa kita itu juga egois, dia egois mengingnkan kita selalu siap, selalu ada, tanpa melihat betapa sulitnya kita untuk menumbuhkan "keikhlasan"ketika bilang iya.

Rabu, 07 Oktober 2009

nyemangatin diri sendiri

Fiuh...baru-baru ini saya baru sadar. Ternyata saya ini amat sangat keras kepala ya....hahaha. Parah....ngaca pu...ngaca...Dan sebelnya k-keras kepala-an saya sedang mencapai titik klimaks. Huh....kayaknya orang seluruh dunia yang kenal sama saya lagi kesel abies deh. Gara-gara kelakuan saya yang seenaknya sendiri.
Tolong Puspita, nak....tahukah engkau, semua orang rindu kerja-kerjamu,kontribusimu, bukan tangisan sama ngambegmu yang ga bisa sembuh-sembuh, biarpun umur udah hampir dua puluh.

Kamis, 01 Oktober 2009

CATATAN HARIAN LIBUR LEBARAN part 1

Benar apa kata kebanyakan orang selama ini. Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Dan jika kata kebanyakan orang kebahagiaan itu bukan untuk dicari tapi diciptakan, maka saya akan menambahkan bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang, tahta atau jabatan, maupun pria atau wanita. Kebahagiaan itu kita peroleh dari ketaqwaan dan cinta kita kepada Allah SWT. Segala sesuatu yang didasarkan oleh kecintaan terhadap Yang Maha Agung akan selalu membawa ketenangan jiwa yang luar biasa dalam hidup kita. Satu hal pula yang yang saya rasakan syukuri apa yang ada….maka Allah akan menambah nikmatNya kepada kita.
Inilah catatan harian yang berhasil saya rangkum dari perjalanan liburan yang luar biasa ini :
11 September 2009
Hari-hari di MIPA belakangan ini terasa penat bagi saya. Entah mengapa udara kedamaian yang biasanya meliputi paru-paru seperti lenyap tak berbekas. Berganti gumpalan-gumpalan karbon dioksida yang menyesakan dada.
Pasca PASCAL 2009 ini ada setitik noda yang membuat saya “kemrungsung” dan membuat emosi saya seperti helium yang siap untuk pecah dan meledak membumbung di udara. Dakwah memang mengikat kita seperti tarikan antar molekul, dan jika tarikan itu begitu kuat seperti ikatan hidrogen. Terkadang cukup menyiksa juga, membuat saya merasa sedikit tertekan. Tertekan dengan amanah dakwah ini.
Hari-hari saya begitu futur, agak kesal juga ketika ingin menikmati Ramadhan dengan tenang saya malah dipaksa-paksa diskusi dengan seseorang yang super sibuk sehingga sangat sulit untuk menemui beliau. Berulang kali janji-janjinya dibatalkan dan itu sangat menyebalkan, karena saya jadi kehilangan waktu untuk tasqif.
Belum lagi denga dakwaan “keegoisan” yang terus mengejar-ngejar diri saya, membuat batin saya sangat tersiksa. Pasca PASCAL 2009 ini saya merasa begitu lelah sehingga untuk sementara ingin menikmati waktu untuk saya sendiri bukan untuk orang lain terus, bukan lah hidup itu harus tawazun. Tapi rupa-rupanya sikon sama sekali tidak seperti apa yang saya inginkan. Diskusi setiap hari dan entah mengapa saya justru merasa dicekoki.Capek…..
Itu pula yang membuat saya selama beberapa hari malas berkunjung ke BEM dan justru membiarkanya semakin bertambah sepi. Jahat sekali ya saya ini….Tapi entah futur saya yang terlalu parah atau gimana…dalam kondisi seperti ini maunya ya mau pulang. Itu saja, pulang ke rumah adalah hal yang paling efektif untuk melepas rasa lelah. Refresh bersama keluarga.
Jadi meskipun hari sudah sore, saya tetap memutuskan untuk pulang. Tidak peduli saya sampai rumah sudah terlalu malam, tak peduli dengan tugas I’tikaf yang harusnya saya lakukan, tak peduli juga dengan dealine LPK yang selama ini selalu saya koar-koarkan.
Dan saya amat sangat mengakui hari itu saya tidak professional sama sekali….
12 September 2009
Hal pertama yang menjadi pembelajaran bagi saya adalah….
QS. Al Isra ayat 23
Dan Tuhanmu telah memerintahkan suapaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya…
Tepat hari itu saya memperoleh kabar, bahwa tante saya mau melahirkan anak pertamanya dan sekarang beliau berada di rumah sakit. Tepat hari itu juga saya memperoleh sms dari kakak tingkat,
“pulang ya,koq ga pamitan”
Pffffh…..entahlah pokonya hari itu saya sedang tidak mau tahu dengan kondisi MIPA. Maaf saudara-saudara mood saya sedang jelek, tolong tinggalkan saya sementara waktu dan biarkanlah saya bermain-main dengan dunia saya yang lain.
SMS Reza dan Arief terkait LPK PASCAL pun saya tanggapi seenaknya. Permohonan maaf ke Tata karena saya tak bisa hadir dalam acara Ristekpun saya kirim terlambat waktu. Mohon maaf sebesar-besarnya saudaraku.
Back….to ayat Allah di atas. Apa hubungannya dengan orang melahirkan dan pulang ga bilang-bilang. Yah…begini saudara-saudara. Tante saya melahirkan dengan cara operasi Caesar. Sebelumnya proses kelahirannya itu luar biasa susah. Ayah dan ibu saya dating menjenguk ke rumah sakit. Sedangkan saya memilih untuk tetap di rumah beres-beres dan iseng-iseng bantuin, melupakan masalah yang menggelayut di otak saya.
Tiba-tiba ayah dan ibu saya pulang, ada urusan gitu katanya….
Kata Ayah saya…
“pantas kamu ga ikut…wong si lia tadi jerit-jerit kayak gitu, pasti kamu ketakutan ngeliatnya”
“emang jerit-jerit gitu ya….?”
“Iya…aku sampai kepikir kayaknya kamu mulai sekarang latihan nahan sakit, ga tega aku ngeliat kamu kalau kayak gitu”
Tiba-tiba ibu saya komentar…
“kamu tu jangan samakan anakmu dengan Lia pak….dia kalau sakit diem aja. Paling Cuma tidur, terus bilang ‘jangan ribut, aku sakit…pengen tidur’”
Jujur saya kaget mendengarnya, ternyata dalam kondisi seperti itu Ibu masih membela saya…anak perempuan satu-satunya. Jujur saya jadi terharu juga, ibu saya berkata seperti itu. Padahal jauh di lubuk hati saya, rasa deg-degan itu pasti ada. Dan itu pula alasan saya mengapa saya tidak mau jadi bidan, perawat, dokter dan saudara-saudaranya. Dan mengapa saya merasa jadi koord. P3k itu jauh lebih berat daripada jadi sekretaris, karena tanggungannnya…nyawa. Udah gitu ngeliat orang sakit, saya malah jadi ikut-ikutan sakit. No….no…no…dan untung sekali ayah ibu saya tak pernah memaksa saya ketika saya memilih kimia sebagai prodi pilihan saya. Heran…yang ribut teriak dan ngatur-ngatur justru tetangga saya.
“Koq ga kedokteran atau jadi guru saja, kan prospeknya cerah”
“Pak, bu mbok diingetin putrinya kalau milih prodi itu yang normal, yang jelas kerjaannya apa…masa depan loh buk…pak”
Bla…bla…bla…
Dan saya hanya menjawab dengan senyuman paling manis,padahal jauh dilubuk hati saya bilang…
“suka-suka gua dong, ngapain lu ikut campur”
Tiba-tiba saya memeluk kedua orang tua dengan setulus hati. Beruntung Allah telah mengirimkan malaikat sebaik mereka kepada saya. Yang selalu memberikan saya kebebasan yang bertanggung jawab dan menjadikan saya menjadi seperti apa yang saya mau tanpa takut saya menjadi seseorang yang rusak, karena mereka telah memberikan kepercayaan kepada saya bahwa saya pasti bisa dan tidak akan melakukan kesalahan yang fatal. Inikah yang membuat saya egois sehingga saya menjadi seseorang yang mengikuti kata hati dan tidak bisa mendengar masukan orang lain?
Dan hari itu, saya jadi anak manis….membantu orang tua tanpa disuruh sebagai ucapan terima kasih. Dan…membalas sms….kakak tingkat
“maaaf mbak baru bales, kemarin bingung mau pulangnya mau hari itu atau ga”
Bo’ong….banget…sudahlah taka pa yang penting tidak terjadi keributan karena saya kabur tiba-tiba.
Dan hari ini saya berkata …
“Terima kasih Ya Allah untuk 2 malaikat yang telah Kau kirimkan kepadaku yang telah menghadirkanku ke dunia, membesarkanku dan menjadikanku seperti ini”
13 September 2009
Sadza Naila Maylafaza, itulah nama sepupu baru saya. Fiuh…mbah uti saya sampe belibed memanggil namanya. Memberi nama yang baik itu setahu saya sebagai tugas dari orang tua. Seperti yang disebutkan dalam hadis Rasullulah
Setiap bayi tergadai dan harus ditebus dengan aqiqahnya;disembelihkan kambing pada hari ketujuh, dicukur rambutnya;dan diberi nama ( HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dll )
Dulu waktu saya SMA saya suka sebel dengan nama panjang saya, Puspita Ratri Wulandari. Menurut ayah saya itu artinya, anak perempuan yang lahir di malam hari saat bulan purnama. Puspita itu diambil dari bahasa sanskerta, wajar ayah saya lulusan S1 Pendidikan Sejarah, jadi bukanlah hal yang aneh apabila nama saya mengandung unsur sanskerta. Sudah gitu, type-type nama saya juga cenderung menunjukan sejarah. Sejarah kelahiran saya, hmmmm….kayak ini ya tahun berdirinya masjid demak yang dianalogikan dengan sebuah kalimat. Saya lupa apa itu kalimatnya. Dan nama saya pun juga dibuat seperti itu.
Fiuh…memberi nama yang baik, untuk mengingat-ingat kelahiran saya, maka Puspita Ratri Wulandari adalah nama yang terbaik untuk saya ( kata ayah saya lo….). Tapi dulu waktu SMA saya bener-bener sebel dengan nama saya ini. Kenapa? Karena ada teman sekelas saya yang suka ngata-ngatain nama saya. Katanya puspita itu artinya bunga, jadi artinya “bunga malam”. Enak aja….
Kalau dulu saya marah-marah dikata-katain seperti itu. Tapi sekarang ceritanya sudah dewasa ni,( ehm…ehm…) apalah arti sebuah nama yang penting perilaku saya Insya Allah tidak mencerminkan “bunga malam”. Hoho…sok-sok Shakespeare gitu deh….Ga ding…buat saya nama itu tetap harus mempunyai arti yang bagus, unik, jarang yang makai, wessss…pokoke keren. Hehehe…..
14 September 2009
Kartu ATM saya kececer ga tahu dimana. Hua….jatuh kah, hilangkah….oh…dompet saya bolong rupanya. Mau beli dompet baru ah….tapi masa sih kartu ATM saya hilang. Itu kartu kan saya buat waktu masih SMA. Yupz…orang tua mengajarkan saya menabung sejak kecil, sejak kelas 4 SD saya boleh punya tabungan pribadi, tapi baru boleh punya ATM kelas 3 SMA. Huaaaaa…..Sudahlah lupakan dulu kartu ATM, ingatlah bayar BOP buk….
So….hari ini saya harus ke bank dan membayar BOP secara manual. Repot juga jika kita terbiasa menggunakan teknologi canggih lalu tiba-tiba kembali ke masa purbakala. Kartu ATM lupa naruh dimana, di rumah jauh dari tempat Wi-fi an, hanya handphone yang tersisa. Saya tak bisa membayangkan seperti apa ya saya tanpa handphone, tanpa laptop, tanpa ATM, repot….
Hari itu saya memulai petualangan bayar BOP, hoho….Seperti biasa jika hari lebaran tiba bank Mandiri full, banyak pendatang yang ribut antre di sana. Entah antre di bank untuk menabung, transfer, ataupun mengambil uang secara manual. Atau antrean ATM yang hanya 1 mesin saja.
Jadi sebagai seorang nasabah yang baik, sayapun ikut berbaris di antrean yang cukup panjang. Lama menunggu membuat saya menikmati proses yang kata orang-orang amat sangat menyebalkan. Iseng-iseng saya amati cara berpakaian orang-orang yang berada di dalam bank. Ada pegawai-pegawai bank yang berseragam rapi, dan ada pula nasabah-nasabah yang dating dengan gaya masing-masing. Satu hal yang saya sadari, sepertinya saya satu-satunya nasabah yang dating memakai sandal jepit. Yupz…sandal jepit merk Z…….c warna hitam bergambar bunga, dan ada tulisan “smart and stylist” sudah cukup mencerminkan diri saya. Tiba-tiba saya berfikir,”apa saya salah kostum ya, aneh…memang ke bank harus pakai sepatu?”. Jadi ingat waktu PASCAL kemarin, kalau naik turun dekanat saya harus pakai sepatu. Terus kalau kelupaan terpaksa saya lari kesana-kemari pinjam sepatu hihihi….
Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sesuatu hal, seorang ibu-ibu berpakain cukup modis plus high heels super lancip tergopoh-gopoh kebingungan mencari satpam, tidak tahu bagaimana cara mengisi form aplikasi transfer. Tiba-tiba saya berpikiran baru, intelek tidaknya seseorang bukan dilihat dari penampilan saja, tapi bagaimana cara dia bersikap, attitude dan pemikiran di otaknya. Lagipula ke bank kan niatnya untuk bertransaksi bukan untuk pameran, entah pameran kosmetik, prestise, maupun intelektualitas. Jadi sandal jepit dan ga kelihatan intelek, why not?????. Penampilan memang bisa menipu. Tapi yang pasti tidak cukup penampilan saja. Seorang pemimpin pun tak cukup hanya charisma, ya ga sih…?
15 September 2009
Liburan ini saya berencana untuk belajar masak, tidak lucu rasanya di kampus teman-teman putra berlomba-lomba bisa masak, dan alhamdulilah saya diminta menjadi tester masakan…hehehe…tapi saya sendiri tidak bisa memasak.
Ibu saya sudah “ngomel-ngomel” tiap hari.
“Perempuan itu harus bisa masak, gimana nanti kalau mau ngurus keluarga coba?”
Akhirnya kemarin, mumpung libur dan memang lagi pengen masak, saya langsung bertransformasi menjadi chef Puspita. Dengan gaya Sisca Suwitomo, saya mulai beres-beres dapur. Ngecek-ngecek kompor gas, alat-alat masak. Siiiip….kompor gasnya, tabungnya isi semua. Selang gasnya aman. Alat masak komplit, ada yang lucu. Dulu waktu saya kelas 2 SD, ayah saya beli wajan stainless stell gagangnya cuma satu. Lucunya ibu saya tidak boleh memakai wajan itu. Kata ayah saya, “ Ayah beli wajan ini nanti buat dibawakan kakak kalau sudah menikah dan punya rumah sendiri, jadi orang tua kan walaupun anaknya sudah bisa beli sendiri, ga lucu kalau ga ikut bantu-bantu.”
Aneh…..anak baru kelas 2 SD, belum tahu apa itu nikah? Mengapa orang-orang itu menikah? Dan lain-lainya sudah dibelikan wajan coba. Dan hari itu ibu saya menawarkan untuk memakai. Wajannya masih dikardusin, dibungkus plastic di lemari dapur. Untuk beberapa saat saya tergoda juga mau makai, kan wajannya masih bersih bersinar gitu. Tapi ….engga ah, wajan itu belum waktunya saya pakai. Biarlah semua akan indah pada waktunya, termasuk moment pemakaian wajan itu.
Lets….hari itu saya mau ke pasar. Mau belanja, kentang, tepung terigu, telur, susu, dan telur puyuh. Trak…tak…tak dung..dung…petualangan dimulai. Belanja ke pasar, nyusruk-nyusruk di lantai 2. Nyari telur puyuh di sebelah mana ya..aduh jadi inget waktu SMA, waktu MOS saya dapat tugas bawa telur puyuh warna putih. Dulu saya dibelikan teman, aduh belinya dimana ya.
Akhirnya saya pulang tanpa telur puyuh. Sudahlah pakai telur biasa saja. Acara masak dimulai. Ini merupakan kontes masak paling aneh dalam hidup ibu saya. Di dapur tidak hanya ada alat masak dan bahan-bahan. Tapi ada laptop tempat saya bertanya tentang resep masakan yang sempat saya copy paste dari internet, plus handphone ayah saya komplit dengan headset di telinga. Udah gitu satu tangan megang sendok penggorengan, satu tangan megang hape…smsan.
Ibu saya Cuma geleng-geleng kepala, melihat kelakuan anak perempuanya yang di atas normal ini. Sambil komentar sana-sini,
“Aduh…kentangnya koq masih setengah matang sih.”
“Aduh…ini adonannya koq malah ditinggal nge game….”
Sampai akhirnya…tara….kroket kentang ala pu siap disajikan. Sambil menunggu adzan maghrib, saya taruh kroket di meja makan.
Adzan…..saya buka tudung saji….
Loh…masakan saya ilang…..ga mau..ga mau saya belum nyicipin.
Tiba-tiba…..buron pencuri kroket muncul di hadapan saya dengan wajah tanpa dosa.
“Kak, kentang bulatmu enak tuh, mau ga masih secuil”
Tidaaaak….tapi tadi dipuji enak. Ga papa ah….kentang abies berarti masakan saya emang so sweat…hehehe.
16 September 2009
Karena sedang sumpek dengan MIPA, belakangan ini saya kangen banget dengan masa-masa SMA. Sepertinya menyenangkan sekali mengingat masa-masa independen itu. Masa diman komunitas saya amat sangat berbeda dengan komunitas saya sekarang.
Bukan….bukan komunitas saya yang sekarang tidak nyaman bukan. Komunitas saya yang sekarng jauh lebih indah. Insya Allah….jauh lebih CERAH. Tetapi tetap saja saya kangen dengan hal-hal bodoh yang saya alami di masa putih abu-abu itu.
SMA…SMA….sekarang SMA saya sudah mengalami perkembangan yang luar biasa. Spanduk bertulis Rintisan Sekolah Bertaraf International terpampang dengan gagahnya. “ To reach great achievement based on belief in God and to produce compatible graduate nationally and internationally.” Busyet dah…apaan itu artinya.
Sekarang SMA saya full AC dimana-mana. Hampir semua bangunannya lantai 3. Semakin banyak rupanya ruang kelasnya. Hmmm….entah berapa jumlah ruangannya, tapi buat saya, tangga tetaplah bagian yang paling indah. Mengapa? Hmmmm…ada deh. Ada satu alasan yang tak bisa saya ceritakan di sini.
Huhuhu….tib-tiba saya pengen nangis…
Saya kangen…
Adhi…teman sekelas saya yang paling pinter, yang punya rumus cepatjauh lebih canggih daripada bimbel paling bagus se-wonogiri…
Tito…yang jago banget gambar, apalgi bikin gambar rumah tingkat yang menurut saya terlalu rumit …
Anggita…anak pendidikan biologi
Gatot…Rekor 3 tahun, saya satu kelas terus…
Iwan…ketua OSIS yang amat sangat “buaya”
Hanan….yang pernah member saya kejutan “sekantung plastic roti molen panas”, dan setia mendengar cerita bodoh saya
Hita….simpei…
Yesi…ini mah tiap hari ketemu
Ari….yang pendiem
Mpok yuyun…yang hobby jualan Sophie Martin
Phie…teman sebangku yang karakternya 180 derajat dengan saya.
Dika…teman wisata kuliner
Sance….fans berat pak satpam
Ira…anak si bapak kepala sekolah
Rita…si melankolis
Lia….yang manis
Sari…hoho…jadi merasa pendek kalau berdiri di sebelahnya
Ambar…teman sebangku waktu kelas 2
Argo…mas argo…mas…mas…
Huhuhu…dan masih banyak lagi teman-teman SMA yang lainnya….Huhuhu….kangen mengejar tukang tempura, jajan chocolatos bareng, hwaaaa…kangen ngeles privat kimia satu-satu.
Kangen…..kangen….sekarang mereka sudah seperti apa ya?
Makin tambah tua?
Makin tambah dewasa?
Atau makin kekanak-kanakan saja….

17 September 2009
Meskipun sekian hari pikiran, dan tubuhku terus bermain-main dengan dunia SMA, namun entah kenapa, tiba-tiba ada sesuatu yang kurang, ketika berhari-hari tak kusentuh cerita tentang MIPA.
Uus…ajeb…devy….mita…dewi…irwan…andre…arief…eka…hezti…nisa…warda…pandu….hua….masih banyak lagi…..
Kangen…>,_,<
18 September 2009
Ada orang yang pernah bilang ke saya, “pu kamu selalu ngebahas yang kecil-kecil dan ga penting, masalah kecil akan jadi besar”
Jleb….sakit dengernya….
Eh…kemarin ada yang bilang
“ada satu hal yang tak pernah saya lupakan, kamu pendengar yang baik, dan mengingat-ingat hal-hal kecil”
Hua….tiba-tiba saya jadi terharu.

Kamis, 06 Agustus 2009

FIUH...

Fiuh....dekanat setiap hari, itulah yang aku alami. Subhanallah, sampai ga sempat ngeblog dan bingung mau nulis apa. SEMANGAT pu...

Jumat, 26 Juni 2009

In Colaboration with ....PASCAL 2009

Tahun ajaran baru sebentar lagi akan tiba, PASCAL 2009. Selalu ada yang istimmewa dari PASCAL, mulai dari PASCAL 2007 sekalipun sampai PASCAL 2009. Selalu ada alasan untuk merindukan PASCAL. PASCAL 2007, masa-masa menjadi maba, hmmmm....puas dikerjain kakak-kakak angkatan.
PASCAL 2008, menjadi sie pemandu putri....meskipun rasanya kurang di upgrade potensinya setidaknya meras ada peningkatan yang jauh lebih baik. Lebih kalem euy....Terus bantuin sie acara bikin soundtrack...hwahaha...ada-ada aja deh waktu itu. Ehm...nyelesaiin mading, bantu-bantu research week ( my memories with eqi).Huuuhuuuu....pokoknya kalau inget setahun lalu itu jadi terharu.
Tapi...
PASCAL 2009...dijamin kepanitiaan ga "sehat", ketuannya stress, sekretarisnya juga pikirannya agak ga normal,hehehe. Hmmm...berharap PASCAL 2009 bisa sukses deh...
Buat temen-temen yang dah jadi panitia...semangat ya....
Buat Esa, Priyo, kerja pertama kalian denganku nie...
Buat Mita, Bayu, Ariep, Irwan,Yesi, Fika dan sutris...ini sudah kerja yang ke sekian kali...udah paham kan sama pu,,
Buat Ketuanya....masih sabar kan menghadapi omelanku...hehehe